Rabu, 08 Juni 2011

makalah plh

BAB I
PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG
Manusia dalam memenuhi kebutuhan hidupnya memerlukan sumber daya alam, yang berupa tanah, air dan udara dan sumberdaya alam yang lain yang termasuk ke dalam sumber daya alam yang terbarukan maupun yang tak terbarukan. Namun demikian harus disadari bahwa sumber daya alam yang kita perlukan mempunyai keterbatasan di dalam banyak hal, yaitu keterbatasan tentang ketersediaan menurut kuantitas dan kualitasnya. Sumber daya alam tertentu juga mempunyai keterbatasan menurut ruang dan waktu. Oleh sebab itu diperlukan pengelolaan sumberdaya alam yang baik dan bijaksana. Antara lingkungan dan manusia saling mempunyai kaitan yang erat. Ada kalanya manusia sangat ditentukan oleh keadaan lingkungan di sekitarnya, sehingga aktivitasnya banyak ditentukan oleh keadaan lingkungan di sekitarnya.
Keberadaan sumber daya alam, air, tanah dan sumber daya yang lain menentukan aktivitas manusia sehari-hari. Kita tidak dapat hidup tanpa udara dan air. Sebaliknya ada pula aktivitas manusia yang sangat mempengaruhi keberadaan sumber daya dan lingkungan di sekitarnya. Kerusakan sumber daya alam banyak ditentukan oleh aktivitas manusia. Banyak contoh kasus-kasus pencemaran dan kerusakan lingkungan yang diakibatkan oleh aktivitas manusia seperti pencemaran udara, pencemaran air, pencemaran tanah serta kerusakan hutan yang kesemuanya tidak terlepas dari aktivitas manusia, yang pada akhirnya akan merugikan manusia itu sendiri.






Pembangunan yang mempunyai tujuan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat tidak dapat terhindarkan dari penggunaan sumberdaya alam; namun eksploitasi sumberdaya alam yang tidak mengindahkan kemampuan dan daya dukung lingkungan mengakibatkan merosotnya kualitas lingkungan. Banyak faktor yang menyebabkan kemerosotan kualitas lingkungan serta kerusakan lingkungan yang dapat diidentifikasi dari pengamatan di lapangan, oleh sebab itu dalam makalah ini dicoba diungkap secara umum sebagai gambaran potret lingkungan hidup, khususnya dalam hubungannya dengan pengelolaan lingkungan hidup.

B. RUMUSAN MASALAH
Berdasarkan latar belakang diatas maka dapat di rumuskan masalah yaitu apa hubungan manusia dengan alam, dan pengelolaannya.

C.TUJUAN
Untuk lebih memahami pengetahuan mengenai lingkungan hidup, khususnya mengenai filsafah hubungan manusia dengan alam.

C. METODE PENULISAN
Dalam pembuatan makalah ini, penulis mempergunakan metode kepustakaan yaitu merupakan suatu bentuk penelitian yang dilakukan dalam usaha mencari data dengan mempergukan sumber-sumber tertulis berupa buku-buku, media masa, media internet, tulisan-tulisan lain yang dianggap ada hubungannya.





BAB III
PEMBAHASAN
A. Pengertian
Manusia adalah subyek pendidikan, sekaligus juga obyek pendidikan. manusia dewasa yang berkebudayaan adalah subyek pendidikan yang berarti bertanggung jawab menyelenggarakan pendidikan. Mereka berkewajiban secara moral atas perkembangan pribadi anak-anak mereka, yang notabene adalah generasi penerus mereka. Manusia dewasa yang berkebudayaaan terutama yang berfrofesin keguruan (pendidikan) bertanggung jawab secara formal untuk melaksanakan misi pendidikan sesuai dengan tujuan dan nilai-nilai yang dikehendaki, masyarakat bangsa itu.
Manusia yang belum dewasa, dalam proses perkembangan kepribadiannya, baik menuju pembudayaan maupun proses kematangan dan intregitas, adalah obyek pendidikan. Artinya mereka adalah sasaran atau bahan yang dibina. Meskipun kita sadarai bahwa perkembangan kepribadian adalah self development melalui self actifities, jadi sebagai subjek yang sadar mengembangkan diri sendiri.
Alam semesta adalah media pendidikan sekaligus sebagai sarana yang digunakan oleh manusia untuk melangsungkan proses pendidikan. Didalam alam semesta ini manusia tidak dapat hidup dan “mandiri” dengan sesungguhnya. Karena antara manusia dan alam semesta saling membutuhkan dan saling melengkapi antara satu dengan yang lainnya. Dimana alam semesta ini butuh manusia untuk merawat dan memeliharanya sedangkan manusia butuh alam semesta sebagai sarana berinteraksi dengan manusia lainnya.
Sejarah usaha manusia untuk mengerti dirinya sendiri, kepribadian manusia, sudah ada sejak ilmu pengetahuan itu ada. Ilmu jiwa (Psikologi) yang mula-mula sebaga ilmu jiwa metafisika adalah salah satu usaha tersebut. Makin mendalam manusia menyelidiki kepribadiannya, makin banyak problemanya yang timbul serta makin banyak rahasia yang minta jawaban. Karena manusia adalah mahluk yang unik dan penuh misteri dan rahasia.


B. Kehadiran Manusia
Selama tingkat fisik pendewasaan bumi itu, berbagai keadaan telah dialami oleh bumi ini. Bumi yang dalam segala hal bergantung kepada matahari, mengalami perubahan sejalan dengan perubahan - perubahan yang dialami matahari dan posisinya terhadap matahari ini.
Ada tanda – tanda bahwa Sumatera, Jawa berikut pulau – pulau Sunda kecil, pernah dalam suatu rangkaian, sejajar dengan perkiraan bahwa sungai – sungai besar di Sumatera dan Kapuas di Kalimantan pernah menjadi anak dari sungai besar, yang bermuara di dekat Hongkong.
Bumi kita mengalami berkali – kali zaman es. Yang sangat hebat pada zaman Perm, dimana es meliputi India, Australia, Afrika Selatan dan Amerika Selatan. Pada zaman yang akhir (Plaeotosen) empat kali bumi mengalami zaman es.
Sesuai dengan tingkat perkembangan fisik bumi, pada setiap tingkatan telah muncul makhluk Tuhan yang keadaannya sesuai dengan pertumbuhan zaman itu,. Mulai dari jasad renik bertumbuh halus, jenis nabati dan hewani, disusul makhluk kecil sederhana, sampai kepada makhluk raksasa jenis Dinosaurus dan Brontosaurus.
Terletak di dalam kehendak Tuhan yang maha segala sanggup, setelah iklim di dunia ini telah jinak, setelah keadaan alam telah menyediakan kemungkinan, dan segala bahan untuk menampung kehadiran suatu makhluk Tuhan yang baru telah tersedia, berupa bahan – bahan untuk memelihara hidup dan melestarikan eksistensi makhluk yang baru itu, barulah Tuhan menurunkan perintah-Nya “Aku Menjadikan Khalifah di Bumi, yaitu Manusia”.
Manusia adalah makhluk pemunak tajuk mahkota, yang menduduki tempat teratas dari segala makhluk yang di ciptakan Tuhan.
Dipandang figurative, manusia itu amat bangga terhadap batang tubuhnya. Dipandang secara organis, alangkah lengkapnya susunan dan fungsi segala peranggotaan tubuh manusia itu.
Dipandang secara kimiawi, menakjubkan bagai para ahli, bagaimana segala yang masuk ke dalam tubuh, beupa makanan, minuman, dan pernafasan, diproses oleh peralatan tubuh itu, untuk memugarkan mana yang rusa, memberi perbekalan dan membina pertumbuhan.
C. Perkembangan Alam
Nabi Muhammad SAW yang dilahirkan di tempat dan lingkungan kaum peneymbah berhala yang belum disentuh oleh ilmu dan falsafat. Telah diberitahu Tuhan lewat wahyunya bahwa mulanya alam semesta ini hanya segumpal saja (QS, 21:30), lalu dipisah – pisahkan Tuhan dan dicerai – beraikan-Nya.
Tokoh ilmu dan filsafat zaman terakhir ini, telah mencoba menjelaskan apa yang segumpal itu, yang merupakan materi kant adalah awan kosmis yang panas, menurut Laplace hal itu debu kosmis yang dingin, menjadi panas ketika pemadatan terjadi, sementara Fred Hoyle mengatakan sebagai zat cair.
Ilmu yang demikian tinggi itu, yang merupakan pemahaman yang muncul secara intuitif dalam batin seorang yang jenius itulah yang memberi tafsir kepada ayat Tuhan tersebut. Ada pula yang ilmuan yang berpendapat bahwa asal – asul alam semesta adalah segumpal suatu prima yang bundar dan padat, yang telah meledak pada suatu ketika. Pecahan – pecahan yang terbit karena ledakan itu, berserakan di seluruh ruang angkasa raya, dan inilah yang menjadi asal segala isi langit ini.
Tetapi penyusun cenderung memilih uraian Fred Hoyle, mahaguru Cambrige University, karena inilah yang paling dekat kepada Qur’an dan hadist, yaitu bahwa pada ketika segala belum ada, ‘arsyi tuhan adalah di atas air (QS,11:7).
Langit dan bumi diciptakan dalam 6 hari (QS, 11:7), hari pertama timbulnya butir – butir yang bermuatan (proton, neutron, dan elektron), hari kedua hari terbentuknya air (H), hari ketiga proses kejadian binatang – binatang empat, hari ke empat ada binatang yang pecah, yang ke lima materi bumi dan planet – planet lain menyiapkan diri, hari ke enam proses pembekuan dan pendinginan.
Bumi yang telah dingin, dan tandus itu disiram Tuhan dengan air, maka mulailah muncul makhluk hidup berasal dari zat – zat yang ada di Bumi. Di keluarkanlah oleh Tuhan yang hidup dari yang mati (QS,30:50), berangsur – angsur bumi di ramaikan Tuhan dengan membiakanya dan bertambahnya jens makhluk hidup. (QS, 29:20; 35:1).
Setelah dunia ini ramai dan segala syarat yang perlu memelihara kehidupan dan kelestarian makhluk terakhir telah cukup tersedia, lalu Tuhan menciptakan manusia, makhluk pemuncak yang disempurnakan Tuhannya , dan di beri kesanggupan yang besar dan akal yang cerdas. (QS, 95:4 ; 55:3-4)
Sementara itu proses perkembangan alam gerak terus. Alam ini keseluruhannya berangsur – angsur meneruskan perjalanannya ke arah tujuannya yang telah tetap dan tentu, rencana ketetapan tuhan yang tidak dapat di ubah.
Manusia menghuni dunia ibarat sebagai penumpang kapal yang sedang berlayar di tengah samudra luas. Nasibnya sebagai penumpang tergantung kepada nasib kapal yang di tumpanginya. Manakala angin baik dan cuaca pun baik pula, maka bolehlah penumpang dengan senang hati bermain – main di atas geladak sambil bersuka – sukaan. Dan kapalpun dengan tentram melaju dengan kecepatan yang tetap dalam pelayarannya.

D. Perkembangan Perhatian Manusia Terhadap Alam
Manusia mulai memperhatikan alam sejak manusia ada. Hal ini disebabkan karena manusia mendapatkan unsur – unsur yang diperlukan dalam hidupnya dari lingkungan. Makin tinggi kebuyaan manusia, makin beraneka ragam kebutuhan hidupnya. Makin besar jumlah kebutuhan hidupnya yang diambil dari alam, maka berarti makin besar perhatian manusia terhadap alam.
Pada saat manusia hidup sebagai pemburu dan pengumpul hasil hutan yang primitf, manusia masih sangat dikendalikan oleh lingkungan hidupnya. Pada masa tersebut manusia mengadaptasikan dirinya terhadap lingkungan. Perhatian manusia terutama ditunjukan pada daerah dan musim buah yang merupakan bahan maknannya serta perilaku hewan buruannya.
Ketika manusia mulai hidup menetap dan bertani, perhatian – perhatian manusia terhadap alam makin besar pula. Pada masa tersebut manusia makin banyak menguasai lingkungannya dengan mengolah tanah untuk pertanian dan membudidayakan hewan buruannya. Untuk keperluan rumah tinggalnya manusia mengambil kayu dan bahan lain dari lingkungan.
Perhatian dan pengaruh manusia terhadap alam makin meningkat pada zaman industry. Pada masa tersebut manusia merubah alam alami menjadi alam binaan. Eksploitasi sumber daya alam makin meningkat untuk memenuhi bahan dasar industry. Sebaliknya hasil samping industry yang berupa asap dan limbah mulai menurunkan kualitas lingkungan hidup.

Tonggak besar perhatian manusia terhadap alam terjadi sekitar tahun 1960 - 1970. Pemakaian batu bara sebagai energy untuk industry menimbulkan asap. Asap ini dapat menyatu dengan kabut dan membentuk smog (asap kabut) yang banyak menimbulkan korban di London dan daerah industry lain.

E. Status dan Peranan Manusia
Manusia merupakan komponen biotic lingkungan yang memilkiki daya fikir dan daya penalaran yang tinggi. Disamping itu menusia mempuanyai kebudayaan, pranata social dan pengetahuan serta teknologi yang makin berkembang. Kondisi yang demikian menyebabkan manusia mempunyai status yang khusus dalam melestarikan alam.
Hal ini disebabkan karena dalam memenuhi kebutuhan hidupnya manusia secara aktif dapat mengelola dan merubah ekosistem.
Disamping itu manusia merupakan makhluk dominan terhadap makhluk hidup lainnya. Dminasi manusia ini terutama disebabkan karena kemampuan serta karena jumlahnya yang banyak. Manusia memilki ilmu pengetahuan dan teknologi, manusia menguasai makhluk hidup lainnya dalam memenuhi kebutuhan hidupnya. Disamping itu pertambahan penduduk yang sangat cepat menyebabkan populasi manusia merupakan populasi yang terbesar dibandingkan dengan populasi makhluk hidup lainnya.

a) Peranan Manusia yang Bersifat Negative
1) Makin sedikitnya persediaan sumber daya alam karena eksploitasi yang melampaui batas.
2) Berubahnya ekosistem alami menjadi ekosistem binaan.
3) Berubahnya profil permukaan bumi yang dapat mengganggu kestabilan tanah hingga menimbulkan longsor.
4) Masuknya energy, bahan atau senyawa yang menimbulkan pencemaran air, udara dan tanah.


b) Peranan Manusia yang Bersifat Positif
1) Melakukan eksploitasi secara tepat dan bijaksana terutama sumber daya alam yang idak dapat dierbaharui.
2) Mengadakan penghijauan dan reboisasi untuk menjaga kelestarian keanekaan jenis flora serta untuk mencegah terjadinya erosi dan banjir.
3) Melakukan proses daur ulang, serta pengolahan limbah, agar kadar bahan pencemar tidak melampui batas.
4) Melakukan system pertanian secara tumpang sari atau multi kultur untuk menjaga kesuburan tanah.
5) Membuat peraturan, organisasi atau undang – undang untuk melindungi alam dan keanekaan jenis makhluk hidup.















BAB IV
PENUTUP

A. SIMPULAN
Allah SWT menciptakan alam semesta ini bukan untukNya, tetapi untuk seluruh makhluk yang diberi hidup dan kehidupan. Sebagai pencipta dan sekaligus pemilik, Allah mempunyai kewenangan dan kekuasaan absolut untuk melestarikan dan menghancurkannya tanpa diminta pertanggungjawaban oleh siapapun. Namun begitu, Allah telah mengamanatkan alam seisinya dengan makhlukNya yang patut diberi amanat itu, taitu MANUSIA. Dan oleh karenanya manusia adalah makhluk Allah yang dibekali dua potensi yang sangat mendasar, yaitu kekuatan fisi dan kekuatan rasio, disamping emosi dan intuisi. Ini berarti, bahwa alam seisinya ini adalah amanat Allah yang kelak akan minta pertanggungjawaban dari seluruh manusia yang selama hidupnya di dunia ini pasti terlibat dalam amanat itu.
Manusia diberi hidup oleh Allah SWT tidak secara outomatis dan langsung, akan tetapi melalui proses panjang yang melibatkan berbagai faktor dan aspek. Ini tidak berarti Allah SWT tidak mampu atau tidak kuasa menciptakannya sekaligus. Akan tetapi justru karena ada proses itulah maka tercipta dan muncul apa yang disebut “kehidupan” baik bagi manusia itu sendiri maupun bagi mahluk lain yang juga diberi hidup oleh Allah SWT, yakni flora dan fauna.
Kehidupan yang demikian adalah proses hubungan interaktif secara harmonis dan seimbang yang saling menunjang antara manusia, alam dan segala isinya utamanaya flora dan fauna, dalam suatu “tata nilai” maupun “tatanan” yang disebut ekosistem. Tata nilai dan tatanan itulah yang disebut pula “moral dan etika kehidupan alam” yang sering dipengaruhi oleh paradigma dinamis yang berkembang dalam komunitas masyarakat disamping pengaruh ajaran agama yang menjadi sumber inspirasi moral dan etika itu.



B. SARAN
Adapun saran yang kami ajukan adalah sebagai berikut:
Saya menyadari makalah ini belum sempurna karena keterbatasan kami dalam memperoleh sumber pustaka oleh karena itu disarankan untuk makalah selanjutnya dapat lebih dilengkapi.























DAFTAR PUSTAKA

Djamil, Damanhuri. 1985. Kesatu Paduan dan Alam. Bandung: Pustaka.

Prihantoro, Laksmi. 1989. Manusia dan Lingkungan Hidup. Bandung: _

Tidak ada komentar:

Posting Komentar