Rabu, 08 Juni 2011

makalah pengantar pendidikan

BAB I
PENDAHULUAN
Latar Belakang
Banyak orang yang tidak memahami makna intelek dan inteleginsi. Khususnya pada perkembangan karakteristik intelek pada remaja. Adapun faktor-faktor yang mempengaruhi perkembangan bakat khusus, perbedaan individu dalam bakat khusus, serta upaya pengembangannya dalam penyelenggaraan pendidikan. Untuk memahami makna dan karakteristik perkembangan remaja yang mempengaruhi terhadap tingkah laku, perkembangan bahasa, pengaruhnya terhadap kemampuan berpikir, perbedaan individual terhadap perkambangan bahasa serta dalam hubungan social yang berupaya untuk mengembangan hubungan social remaja dan implikasinya dalam penyelanggaraan pendidikan.

Tujuan
Untuk mengetahui pengertian intelek, social, bakat dan bahasa.
Mengetahui factor-faktor perkembangkan intelek, social, bakat dan bahasa.
Mengetahui tentang pengaruh masalah terhadap perkembangan fisik remaja.

Permasalahan
Yang dimaksud dengan intelek, sosial, bakat dan bahasa
Faktor perkembangan intelek, sosial , bakat dan bahasa
Bagaiman cara menangani perkembangan intelek, sosial, bakat dan bahasa








BAB II
PEMBAHASAN


Perkembangan Intelek
Pengertian Intelek dan Inteligensi
Intelek adalah kecakapan mental, yang menggambarkan kemampuan berpikir. Inteligensi dapat diartikan sebagai kemampuan seseorang dalam berpikir dan bertindak. Kemampuan berpikir atau inteligensi dapat diukur dengan tes inteligensi. Tes inteligensi yang dikenal adalah tes binet simon. Hasil tes inteligensi dinyatakan dalam bentuk nilai IQ, dan hal ini bamyak gunanya karena tingkat inteligensi berpengaruh terhadap banyak aspek.
Rumus perhitungan :
MA/CA ×100=IQ

IQ adalah suatu nilai yang hanya dapat ditentukan secara kita-kira dapat terjadi perubahan-perubahan berdasarkan factor-faktor individual dan situasional. Bahwa perubahan-perubahan intra individual dalam nilai IQ lebih merupakan hal yang umum.
peranan pengalaman dari sekolah terhadap inteligensi.
Pengaruh lingkungan terhadap perkembangan inteligensi
Penelitian ini menemukan tiga unsur penting dalam keluarga yang amat berpengaruh,yaitu:
Jumlah buku, majalah, dan materi belajar lainnya yang terdapat dalam lingkungan keluarga.
Jumlah ganjaran dan pengakuan yang diterima anak dari orang tua atas prestasi akademik.
Harapan orang tua akan prestasi akademik anaknya.
Di samping itu, variasi dalam stumulus adalah bagian yang penting dari lingkungan dan belajar untuk perkembangan inteligensi anak. Bila pengalaman awal masa anak-anak banyak diisi dengan variasi dalam melihat, mendengar, dan meraba. Maka kapasitas ini menjadi kunci bagi perkembangan kognitif anak.
Secara nilai IQ menujukan adanya perbedaan individu tentang kemampuan berpikirnya, tiap-tiap orang tidak sama. Berdasarkan nolai IQ atau kecerdasannya manudia dapat dikatagorikan menjadi 6 kelompok:
di bawah 70, anak akan mengalami kelainan mental,
71-85, anak di bawa normal (bodoh),
86-115, anak normal,
116-130, anak di atas normal (pandai),
131-145, anak yang superior (cerdas),
145 ke atas anak jenius (istimewa)
Semua orang di dunia di ukur inteligensinya maka akan terdapat oarng-orang yang cerdas yang sama banyaknya dengan orang-orang yang sangat rendah tingkat berpikirnya (terbelakang), orang-orang yang superior sama banyaknya dengan orang-orang yang tergolong terbatas. Sedangkan yang terbanyak adalah orang-orang yang tergolong berinteligensi rata-rata atau normal.

Karakteristik Perkembangan Intelek Remaja
Inteligensi apa masa remaja tidak mudah di ukur, karena remaja tidak mudah terlihat perubahan kecepatan perkembangan kemampuan inteligensinya. Pada umumnya 3-4 tahun pertama menujukan perkembangan kemampuan yang hebat, selanjutnya akan terjadi perkembangan yang teratur. Pada masa remaja kemampuan untuk mengatasi masalah yang majemuk bertambah. Pada masa remaja, kira-kira apda umur 12 tahun, anak berada pada masa yang disebut “masa operasi formal” (berpikir abstrak). Pada usia remaja ini anak sudah dapat berpikir abstrak dan hipotek. Dalam berpikir operasional formal setidak-tidaknya mempunyai dua sifat yang penting, yaitu:
Sifat deduktif hipotesis
Dalam menyelesaikan masalah, pada umumnya para remaja akan mengawali dengan pemikiran teoretik. Lalu menganalisis masalah dan penyelesaikan dengan cara hipotensis. Pada dasarnya pengajukan hipotesis itu menggunakan cara berpikir induktif di samping deduktif, oleh sebab itu dari sifat analis yang ia lakukan, ia dapat membuat suatu strategi penyelesaian.
Berpikir operasional juga berpikir kombinatoris
Sifat ini merupakan kelengkapan sifat yang pertama dan berhubungan dengan cara bagaimana melakukan analisis.

Faktor-faktor yang Mempengaruhi Perkembangan Intelek
Pada pandangan pertama yang mengakui bahwa inteligensi itu adalah factor bakat, yang dinamakan aliran Nativisme, sedangkan pandangan kedua yang menyatakan bahwa inteligensi itu dapat dipengaruhi oleh lingkungan dinamakan aliran Empirisme.
Factor-faktor yang mempengaruhi perkembangan intelek,yaitu, :
Bertambahnya informasi yang disimpan dalam otak seseorang sehingga ia mampu berpikir reflektif.
Banyaknya pengalaman-pengalaman dan latiham-latihan memecahkan masalah sehingga seseorang dapat berpikir proporsional.
Adanya kebebesan berpikir, meninbulkan keberanian seseorang dalam menyusun hipotesis-hipotensis yang radikal, kebebasan menjajaki masalah secara keseluruhan, dan menujang keberanian anak memecahkan masalah dan menarik kesimpulan yang baru dan benar.

Perbedaan Individu dalam Kemampuan dan Perkembangan Inteligensi
Dalam motivasi untuk belajar sering diusahakan melalui minat dengan berbagai alat audio visual pada siswa yang sudah biasa menonton saja secara pasif. Menimbulkan minat serupa itu di tengah-tengah masyarakat yang menyajikan rangsangan yang lebih menarik bagi siswa seperti menonton, permainan, dan betuk rekreasi lain, sungguh-sungguh merupakan tangtangan. Untuk itu, kita usahakan agar bahan pelajaran itu sendiri mempunyain intrinsic, yang mengandung nilai atau makna bagi remaja. Guru berusaha agar dalam proses belajar mengajar para siswa turut terlibat aktif. Untuk itu dikembangakan atau di gunakan pendekatan yang memberiakan kesempatan kepada mereka untuk rnenentukan sendiri. Pendekatan secara umum itu dikenal sebagai pendekatan keterampilan proses atau metoda penemuan dan inkuiri.

B. Bakat Khusus
Merupakan kenyataan yang berlaku di mana-mana bahwa manusia berbeda satu sama lain dalam berbagai hal, antara lain dalam inteligensi, bakat, minat, kepribadian, keadaan jasmani, dan perilaku social. Ada kalanya seseorang lebih cekatan dalam satu bidang kegiatan dibandingakan orang lain. Dalam bidang tertentu menunjukan keunggulannya dibandingkan dengan orang lain.

Pengertian Bakat Khusus
Bakat adalah kemampuan bawaan yanh merupakan potensi yang masih perlu dikembangkan atau dilatih.
Bakat mencakup 3 dimensi,yaitu:
Dimensi perseptual
Dimensi perceptual meliputi kemampuan dalam mengadakan persepsi, dan meliputi factor-faktor antara lain:
kepekatan indra,
perhatian,
orientasi waktu,
luasnya daerah persepsi,
kecepatan persepsi, dan sebagainya.

Dimensi psikomotor
Dimensi psikomotor ini mencakup enam faktor,yaitu:
Kekuatan,
Impuls,
Kecepatan gerak,
Ketelitian,
Koordinasi,
Keluwesan.

Dimensi intelektual
Dimensi inilah yang umumnya mendapat sorotan luas, karwena memang dimensi ini mempunyai implikasi sangat luas. Dimensi ini meliputi lima factor,yaitu:
a). factor ingatan, yang mencakup ingatan yaitu mengenai:
Subtansi
Relasi, dan
System.
b). factor ingatan, mengenai pengenalan terhadap:
Keseluruhan informasi,
Golongan,
Hubungan-hubungan,
Bentuk atau struktur, dan
Kesimpulan.
c). faktor evaluasi, yang meliputi evaluasi mengenai:
Identitas,
Relasi-relasi,
System,
Penting tidaknya problem (kepekatan terhadap problem yang dihadapi)
d). faktor berpikir konvergen,yaitu:
Nama-nama,
Hubungan-hubungan,
Sisetm-sistem,
Transformasi, dan
Implikasi- implikasi yang unik.
e). faktor berpikir divergen,yaitu:
Untuk menghasilkan unit-unit,
Untuk pengalihan kelas-kelas secara spontan,
Kelancaran dalam menghasilkan hubungan-hubungan,
Untuk menghasilkan system,
Untuk transformasi divergen,
Untuk menyusun bagian-bagian menjadi garis besar atau kerangka.

Jenis-Jenis Bakat Khusus
Setiap orang mempunyai bakat tertentu, masing-masing dalam bidang dan derajat yang berbeda-beda. Usaha pengenalan bakat mulu-mula terjadi pada biang pekerjaan, tetapi kemudian juga dalam bidang pendidikan.
Pemberiaan nama terhadap jenis-jenis bakat biasanya dilakukan berdasa kan atas bidang apa bakat tersebut berfungsi, seperti bakat matematika, bakat bahasa, bakat olahraga, bakat seni, bakat krelikal, bakat guru, bakat dokter, dan sebagainya. Maka macam bakat akan sangat tergantung pada konteks kebuayaan dimana seseorang individu hidup dan dibesarkan. Mungkin penanaman itu bersangkutan dengan bidang studi, mungkin pula dalam bidang kerja.

Kaitan antara Bakat dan Prestasi
Bakat memungkinkan seseorang untuk mencapai prestasi dalam bidang tertentu, akan tetapi diperlukan latihan, pengetahuaan, pengalama, dan dorongan atau motivasi agar bakat itu dapat terwujud. Misalnya seseorang mempunyai bakat menggambar , jika ia tidak pernah diberi kesempatan untuk mengembangkan, maka bakat tersebut tidak akan tampak. Jika orang tuanya menyadari bahwa ia mempunyai bakat sebaik-baiknya untuk mengembangkan bakatnya, dan anak itu juga menunjukan minat yang besar untuk mengikuti pendidikan menggambar, maka ia akan dapat mencapi prestasi yang unggul bahkan dapat menjadi pelukis terkenal.

Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Bakat Khusus
Adapun sebab atau faktor-faktor yang mempengaruhi bakat khusus atau seseorang tidak dapat mewujud kkan bakat-baktnya secara optimal, dengan kata lain prestasinya dibawah potensinya dapat terketak pada anak itu sendiri dan lingkungan.
Anak itu sendiri, sianak kurang beminak untuk mengembangkan bakatnya, atu kurang bermotvasi untuk berprestasi yang tinggi atau mungkin juga mempunyai kesulitan atau masalah pribadi sehingga mengalami hambatan dalam mengembangkan diri dan berprestasi sesuai bakatnya.
Lingkungan anak, orang tua yang kurang mampu untuk menyediakan kesempatan dan sarana pendidikan yang ia butuhkan atau ekonomi yang cukup tinggi tetapi kurang memberikan perhatiaan terhadap pendidikan anak.

Perbedan Individu dalam Bakat Khusus
Sekali lagi perlu ditekankan bahwa setiap anak mempunyai bakat-bakat tertentu, hanya berbeda dalam jenis dan derajatnya. Yang dimaksud denagan anak berbakat ialah mereka yang mempunyai bakat-bakat dalam deraja tinggi dan bakat-bakat yang unggul . Ada anak yang bebakat intelelektual umum, biasanya mereka mempunyai tarap intelejensi yang tinggi dan menunjukan prestasi sekolah yang menonjol.
Ada pun yang mempunyai bakat akademis khusus, misalnya matematika atau dalam bahasa, sedangkan dalam mata pelajaran lain belum tentu menonjol. Anak yang yang intelengensinya mungkin tidak terlalu tinggi tetapi unggul dalam kemamapuan berpikir kreatif-froduktif. Ada pun anak yang bakatnya di bidang olahraga, atau dalam salah satu bidang seni seperti melukis atau music, ada anak di sekolah tidak termasuk siswa yang pandai, tetapi menonjol dalam keterampilan teknik anak-anak yang dipilih menjadi pemimpin, karena mereka dalam bidang psikososial.
Jelaslah, bahwa bakat dapat meliputi macam-macam bidang, termasuk misalnya bakat music atau melukis dan lain-lain yang sifatnya non-intelektual.

Upaya Pengembangan Bakat Khusus Remaja dan Implikasi-Implikasi dalam Penyelenggaraan Pendidikan
Yang harus diukur oleh alat diidentifikasi adalah baik potensi (bakat prembawaan) maupun bakat yang tinggi. Alat ukur atau tes apa yang dipakai tentu sja tergantung pada macam bakat yang dicari.
Untuk orang tua yang tidak tahu untuk apa bakat anak,bakat anak bermanfaat bagi orang tua agar mereka dapat memahami dan memenuhi kebutuhan-kebutuhan anak. Denagan mengenal ciri-ciri anak berbakat, orang tua dapat menyediakan lingkungan penduidikan yang sesuai dengan bakat anak.orang tua dapat membantu dan melihat bakat suatu beban tetapi suatu anugerah yang harus dihargai dan dikembangkan. Manfaatnya orang tua untuk mengenali bakat anak ialah agar orang tua dapat membantu sekolah dalam prosedur pemanduan anak berbakat, dengan memberikan informasi yang dibutuhkan tentang ciri-ciri dan keadaan anak mereka.
Adapun kondisi-kondisi lingkungan yang bersifat memupuk bakat anak adalah keamanan psilologis dan kebebasan psikologis.
Anak akan merasa aman secara psilkologis apabila :
Pendidikan dapat menerimanya sebagaimana adanya, tanpa syarat dengan segala kekuatan dan kelemahannya, serta member kepercayaan padanya bahwa pada dasarnya ia bak dan mampu.
Pendidikan mengusahakan suasana dimana anak tidak merasa “dinilai”
oleh orang lain. Memberi penilaian terhadap seseorang dapat dirasakan sebagai ancaman, sehingga menimbulkan kebutuhan akan pertahanan diri.
Pendidikan memberikan pengertian dalam arti dapat memahami pemikiran, perasaan, dan perilaku anak, dapat menempatkan diri dalam situasi anak. Dalam suasana ini anak merasa aman untuk mengungkapkan bakatnya.
C. perkembangan Sosial
1. Pengertiaan Perkembangan Hubungan Sosial
Beberapa teori tentang perkembangan manusia telah mengungkapkan bahwa manusia tumbuh dan berkembang dari masa bayi ke dewasa melalui beberapa langkah dan jenjang. Kehidupan anak dalam menelusuri perkembanganya itu pada dasarnya merupakan kemampuan mereka berinterasksi dengan lingkungan. Pada proses integrasi dan interaksi ini factor intelektual dan emosional mengambil peranan penting. Proses tersebut merupakan proses sosialisasi yang mendudukan anak-anak sebagai insan yang secara aktif melakukan proses sosialisasi
Manusia tumbuh dan berkembang didalam lingkungan. Lingkungan itu dapat dibedakan atas lingklungan fisik dan lingkungan social. Lingkungan social memberikan pengaruh terhadap pembentukan berbagai aspek kehidupan, terutama kehidupan sosial-psikologis. Manusia sebagai makhluk social, senantiasa berhubungan dengan sesama manusia. Bersosialisasi pada dasarnya merupakan proses penyesuasai diri terhadap lingkungan kehidupan social. Interaksi seseorang dengan manusia lainnya diawali sejak bayi. Menginjak masa remaja, interaksi dan pengenalan atas pergaulan dengan teman sebaya terutama lawan jenis menjadi semaklin penting. Pada akhirnya pergaulan sesama manusia di butuhkan.
Kebutuhan bergaulan dan berhubungan dengan orang lain ini dirasakan sejak anak berumur 6 tahun, disaat anak itu telah mampu mengenal manusia lain, terutama ibu dan anggota lain. Anak mulai mengenal dan mampu membedakan arti senyum dan prilaku social lain seperti marah dan kasih sayang. Akhirnya setiap orang menyadari bahwa manusia itu saling membutuhkan.
Dari uraian diatas dapat diartikan bahwa hubungan social merupakan hubungan antara manusia yang saling membutuhkan. Hubungan social dimulai dari tingkat sederhanaan terbatas.

2. Karakteristik Perkembangan Sosal Remaja
Remaja adalah tingkat perkembangan anak yang telah mencapai jenjang menjelang dewasa. Pada jenjang ini, kebutuhan remaja telah cukup kompleks, cakrawala interaksi social dan pergaulan remaja telah cukup luas. Dalam penyesuaian diri dari lingkungannya remaja telah mulai memperhatikan dan mengenal sebagian norma pergaulan, yang berbeda dengan norma yang berlaku sebelum didalam keluarga. Remaja menghadapi berbagai lingkungan, bukan saja bergaul dengan kelompok umum. Dengan demikian remaja mulia memahami norma pergaulan dengan kelompok remaja, kelompok dewasa, dan kelompok orang tua. Pergaulan sesama remaja dengan lawan jenis dirasakan paling penting tapi cukup sulit, karena disamping harus memperrhatikan norma remaja, juga terselip pemikiran adanya kebutuhan masa depan memilih teman hidup.
Pergaulan remaja banyak diwujudkan dalam bentuk kelompok, baik kelompok kecil maupun kelompok besar. Dalam menetapkan pilihan kelompok yang diikuti dan disasari oleh berbagai penimbangan, seperti moral, social ekonomi, minat dan kesamaan bakat dan kemapuan. Baik didalam kelompok kecil maupun besar, masalah yang umum dihadapi oleh remaja dan paling rumit adalah faktor penyesuaian diri. Didalam kelompok besar akan menjadi persaingan yang berat, masing-masing individu bersaing untuk tampil menonjol. Oleh karena itu sering terjadi perpecahan dalam kelompok tersebut yang disebabkan oleh menonjolnya kepentingan pribadi setiap orang. Penyesuaian diri didalam kelompok kecil, kelompok yang terdiri dari pasangan remja berbeda jenis selakipun, tetap menjadi permasalahan yang cukup berat. Didalam proses penyesuaian diri, kemapuan intekektual dan emosianal mempunyai pengaruh yang kuat. Saling pengertian akan kekurang masing-masing dan penahan sikap menonjolkan diri atau tindakan dominasi terhadap pasangannya, diperlukanya tindakan intelektual yang tepat dan kemapuan menyeimbangkan pengendalian emosional.).

3. factor-faktor mempengaruhi perkembangan social
Perkembangan social manusia dipengaruhi oleh beberapa factor, yaitu :
Keluarga
Keluarga merupakan lingkungan utama yang memberkan pengaruh terhadap aspek perkembangan anak, termasuk perkembangn sosialnya. Kondisi dan tata cara kehidupan keluarga merupakan lingkungan yang kondusip bagi sosialisasi anak. Didalam keluarga terdapat norma-norma kehidupan keluarga. Proses pendidikan yang bertujuan mengembangkan kepribadian anak lebih banyak ditemukan oleh keluarga. Pola pergaulan dan bagaimana norma dalam menetapkan diri terhadap lingkungan yang lebih luas ditetapkan dan arahkan oleh keluarga.

Kematangan
Bersosialisasi memerlukan kematangan fisik dan prikis. Untuk mampu mempertibangkan dalam proses social, memberikan dan menerima pendapat orang lain, memerlukan intelektual dan emosional. Dengan demikian untuk mampu bersosialisasi dengan baik diperlukan kematangan fisik sehingga setiap orang telah mampu menjalakan fungsinya dengan baik.

Pendidikan
Pendidikan memerlukan proses sosialisasi anak yang terara hakikat pendidikan sebagai proses pengoperasian ilmu yang normatif, akan memberi warna social anak didalam masyarakat dan kehidupan mereka dimasa yang akan datang. Pendidikan dalam arti luas harus diartikan bahwa perkembangan anak dipengaruhi oleh keluarga, masyarakat, dan kelembagaan. Penanaman norma prilaku yang benar secara serngaja diberikan kepada peserta didik yang belajar dilembaga pendidikan (sekolah).

Kapasitas Mental: Emosi dan Intelejensi
Kemampuan berpikir dipengaruhi banyak hal seperti kemampuan belajar, memecahkan masalah dan berbahasa. Perkembangan emosi berpengaruh sekali terhadap perkembangan social anak. Anak yang berkemampuan intelektual tinggi akan berkemampuan bahasa secara baik. Oleh karena itu kemampuan intelektual tinggi, kemampuan berbahasa baik, dan pengendalian emosional secara seimbang sangat menemtukan keberhasilan dalam perkembangan social anak. Sikap saling pengertian dan kemampuan memahami orang lain merupakan modal utama dalam kehidupan social dan hal ini akan dengan mudah dicapai oleh remaja yang berkemampuan intelektual tinggi.

4. Pengaruh Perkembangan Sosial Terhadap Tingkah laku
Dalam perkembangan social para remaja dapat memikirkan perihal dirinya dan orang lain. Pemikiran itu terwujud dalam repleksi diri yang sering mengarah kepenilaian diri dan kritik dari hasil pergaulan dengan orang lain. Hasil penilaian tentang dirinya tidak selalu diketahui orang lain, bahkan sering terlihat usaha seseorang untuk merasakannya. Dengan repleksi diri, hubungan dengan situasi lingkungan sering tidak sepenuhnya diterima orang karena lingkungan tidak sejalan dengan konsep dirinya yang tercermin sebagai suatu kemungkinan bentuk tingkah laku.
Pikiran remaja sering dipengaruhi oleh ide-ide dari teori-teori yang menyebabkan sikap kritis terhadap situasi dan orang lain, termasuk orang tuanya. Setiap pendapat orang lain dibandingkan dengan teori yang diikuti atau diharapkan. Sikap kritis itu juga ditunjukkan dalam hal-hal yang sudah umum baginya pada masa sebelumnya, sehingga tata cara, adat istiadat yang berlaku dilingkungan keluarga sering terasa pertentangan dengan sikap kritis yang sama pada prilakunya.
Pencerminan sikap egois sering dapat menyebabkan” kekakuan “ para remaja dalam cara berpikir maupun bertingkah laku. Persoalan yang timbul pada masa remaja adalah banyak pertalian dengan perkembangan fisik yang dirasakan mengganggu dirinya dalam bergaul, karena disangkanya orang lain sepikiran dan ikut tidak puas mengenai penampilan dirinya akibat dari ini akan terlihat pada tingkah laku yang tanggung. Proses penyesuaian diri yang dilandasi sifat ego dapat menimbulkan reaksi lain dimana remaja itu justru melebih-lebihkan diri dalam penilaian diri. Mereka merasa dirinya “hebat” sehingga berani menantang malapetaka dan menyeburkan diri dalam aktivitas yang acap kali dipikirkan atau direncanakan. Aktivitas yang dilakukan pada umumnya tergolong aktivitas yang membahayakan.
Melalui banyak pengalaman dan penghayatan kenyataan serta dalm menghadapi pendapat orang lain maka sifat ego semakin berkurang. Pada akhirnya masa remaja pengaruh ego sudah sedemikian kecilnya, sehingga remaja sudah dapat berhubungan dengan orang lain tanpa meremehkan pendapat dan pandangan orang lain.

5. Perbedaan Individual Dalam Perkembangan Sosial
Bergaul dengan sesama manusia atau bersosialisasi dilakukan oleh setiap orang, baik secara individual maupun berkelompok. Dilihat dari berbagai aspek, terdapat perbedaan individual manusia, hal itu tampak juga dalam perkembangan sosialnya. Dalam teori Erickson dinyatakan bahwa manusia atau anak hidup dalam kesatuan budaya yang utuh, alam dan kehidupan masyarakat menyediakan segala hal yang dibutuhkan manusia. Namun sesuai dengan minat, kemampuan dan latar belakang kehidupan budayanya maka berkembang kelompok-kelompok social yang beranekaragam.
Remaja yang telah mulai mengembangkan kehidupan bermasyarakat, maka telah mempelajari pola-pola social yang sesuai dengan kepribadiannya.

6. Upaya Pengembangan Hubungan Sosial Remaja dan Implikasinya Dalam Menyelenggarakan Pendidikan
Remaja dalam masa mencari dan ingin menentukan jati dirinya memiliki sikap yang terlalu tinggi menilai dirinya atau sebaliknya. Penciptaan kelompok social remaja perlu dikembangkan untuk memberikan rangsangan kepada mereka kearah perilaku yang bermanfaat dan dapat diterima halayak. Kelompok olah raga koperasi, kesenian dan semacamnya dibawah asuhan para pendidik disekolah atau para tokoh masyarakat didalam kehidupan masyarakat perlu banyak dibentuk. Khusus didalam sekolah perlu sering di adakan kegiatan bakti social, bakti karya dan kelompok-kelompok belajar dibawah asuhan para guru pembimbing kegiatan ini hendaknya dikembang luaskan.

D. Perkembangan Bahasa
1. Pengertian Perkembangan Bahasa
Bahasa merupakan alat komunikasi yang digunakan oleh seseorang dalam pergaulannya atau hubungan dengan orang lain. Bahasa merupakan alat bergaul oleh karena itu penggunaan bahasa menjadi efektif sejak seorang individu memerlukan berkomunikasi dengan orang lain. Sejak seorang bayi mulai berkomunikasi dengan orang lain, sejak itu pula bahasa diperlukan. Sejalan dengan perekembangan social, maka perkembangan bahasa seseorang (bayi-anak) dimulai dengan meraba (suara atau bunyi) dan diiktu satu bahasa suku kata, menyusun kalimat sederhana dan seterusnya melakukan sosialisasi dengan menggunakan bahasa yang kompleks sesuai dengan tingkat perilaku social.
Perkembangan bahasa terkait dengan perkembangan kognitif, yang berarti factor intelek atau komisi sangat berpengaruh terhadap kemampuan perkembangan berbahasa. Bayi, tingkat intelektualnya belum berkembang dan masih sangat sederhana. Semakin bayi itu tumbuh dan berkembang serta mulai mampu memahami lingkungan, maka bahasa mulai berkembang dari tingkat yang sangat sederhana menuju kebahasa yang kompleks. Perkembangan bahasa dipengarahi oleh lingkungan karena bahasa pada dasarnya merupakan hasil belajar dari lingkungan. Belajar bahasa yang sebenarnya baru dilakukan oleh anak berusia 6 sampai 7 tahun, disaat anak mulai bersekolah. Jadi perkembangan bahasa adalah meningkatnya kemampuan penguasaan alat berkomunikasi, baik alat komunikasi dengan cara lisan, tulisan maupun menggunakan tanda-tanda dan isyarat. Mampu dan menguasai alat komunikasi disini diartikan sebagai upaya seseorang untuk dapat dipahami dan memahami orang lain.

2. Karakteristik Perkembangan Bahasa Remaja
Bahasa remaja adalah bahasa yang telah berkembang. Anak remaja telah banyak belajar dari lingkungan, dan dengan demikian bahasa remaja terbentuk oleh kondisi lingkungan. Lingkungan remaja mencakup lingkungan keluarga, masyarakat dan khususnya pergaulan teman sebaya dan lingkungan sekolah. Pola bahasa yang dimiliki adalah bahasa yng berkembang didalam keluarga atau bahasa ibu.
Perkembangan bahasa remaja dilengkapi oleh lingkungan masyarakat dimana mereka tinggal. Hal ini berarti proses pembentukan kepribadian yang dihasilkan dari pergaulan dengan masyarakat sekitar akan member ciri khusus dalam perilaku berbahasa. Bersamaan dengan kehidupannya didalam masyarakat luar, remaja mengikuti proses belajar disekolah. Sebagaimana diketahui, dilembaga pendidikan diberikan rangsangan kearah sesuai dengan kaidah-kaidah yang benar. Proses pendidikan bukan memperluas atau memperdalam cakrawala ilmu pengetahuan semata, tetapi juga secara berencana merekayasa perkembangan system budaya, termasuk perilaku berbahasa. Pengaruh pergaulan didalam masyarakat (teman sebaya) terkadang cukup menonjol, sehingga bahasa remaja menjadi lebih diwarnai pola bahasa pergaulan yang berkembang didalam kelompok sebaya.
Pengaruh lingkungan yang berbeda-beda antara keluarga, masyarakat dan sekolah dalam perkembangan bahasa, akan menyebabkan perbedaan antara anak yang satu dengan anak yang lain. Hal ini ditunjukkan oleh pemelihara dan penggunaan kosa kata sesuai dengan tingkat social keluarganya. Keluarga dari masyarakat lapisan berpendidkan rendah atau buta huruf, akan banyak menggunakan bahasa pasar, bahasa sembarangan, dengan istilah-istilah yang kasar. Masyarakat terdidik yang pada umumnya memiliki status social lebih baik, akan menggunakan istilah-istilah lebih efektif dan umumnya anak-anak remaja berbahasa secara lebih baik.

3. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Perkembangan Bahasa
Berbahasa terkait erat dengan kondisi pergaulan. Oleh karena itu perkembangan dipengaruhi oleh beberapa factor, yaitu:
Umur anak
Manusia bertambah umur akan semakin matang pertumbuhan fisiknya, bertambah pengalaman, dan meningkat kebutuhannya. Bahasa seseorang akan berkembang sejalan dengan pertambahan pengalaman dan kebutuhannya. Factor fisik akan dipengaruhi sehubungan semakin sempurnanya organ bicara, kerja otot-otot untuk melakukan gerakan-gerakan dan isarat. Pada masa remaja perkembangan biologis yang menunjang perkembangan berbahasa telah mencapai tingkat kesempurnaan dengan dibarengi tingkat intelektual anak akan mampu menunjukkan cara atau berkomunikasi dengan baik.
Kondisi lingkungan
Lingkungan tempat anak tumbuh dan berkembang memberi andil yang cukup besar dalam berbahasa. Perkembangan bahasa dilingkungan perkotaan akan berbeda dengan lingkungan pedesaan. Begitu pula perkembangan bahasa di daerah pantai, pegunungan dan daerah-daerah terpencil dan di kelompok social yang lain.
Kecerdasan anak
Untuk meniru lingkungan tentang bunyi atau suara, gerakan , dan mengenal tanda-tanda, memerlukan kemampun motorik yang baik. Kemampuan motorik seseorang berkorelasi positif dengan kemampuan intelektual remaja. Ketepatan meniru, memproduksi membendaharaan kata-kata yang diingat, kemampun menyusun kalimat dengan baik dan memahami atau menangkap suatu pernyataan pihak lain, amat dipengaruhi oleh kerja pikir atau kecerdasan seorang anak.
Situasi sosial ekonomi keluarga
Keluarga yang bestatus social ekonomi baik, akan mampu menyadiakan situasi yang baik bagi perkembangan bahasa anak-anak dan anggota lainnya. Rangsangan untuk dapat ditiru oleh anak-anak dari anggota keluarga yang berstatus social tinggi berbeda dengan keluarga yang berstatus social rendah. Hal ini akan lebih tampak berbedaan perkembangan bahasa bagi anak yang hidup didalam terdidik dan tidak tedidik. Dengan kata lain pendidikan keluarga berpengaruh juga terhadap perkembangan bahasa.
Kondisi fisik
Kondisi fisik disini dimaksudkan kondisi kesehatan anak. Seseorang yang cacat terganggu kemampuannya untuk berkomunikasi seperti bisu, tuli, gagap atau organ suara tidak sempurna akan mengganggu perkembangan fisik dan tentu saja akan mengganggu perkembangan dalam berbahasa.





4. Pengaruh Kemampuan Berbahasa Terhadap Kemampuan Berpikir
Kemampuan berbahasa dan kemampuan berpikir saling berpengaruh satu sama lain. Dibawah kemampuan berpikir berpengaruh terhadap kemampuan berbahasa dan sebaliknya, kemampuan berbahasa berpengaruh terhadap kemampuan berpikir. Seseorang yang rendah kemampuan berpikirnya akan mengalami kesulitan dalam menyusun kalimat yang baik, logis, dan sistematis. Hal ini akan berakibat sulitnya berkomunikasi.
Bersosialisasi berarti melakukan kontes dengan yang lain. Seseorang menyampaikan ide dan gagasannya dengan bahasa dan menangkap ide dan gagasan orang lain melalui bahasa. Menyampaikan dan mengambil makna ide dan gagasan itu merupakan proses berpikir yang abstrak. Ketidaktepatan menangkap arti bahasa akan berakibat ketidak tepatan dan kekaburan yang diperolehnya akibat lebih lanjut adalah bahwa hasil proses berpikir menjadi tidak tepat. Ketidak tepatan hasil proses berpikir di akibatkan kekurangmampuan dalam bahasa.

5. Perbedaan Individual Kemampuan dan Perkembangan
Menurut Chomsky anak dilahirkan kedunia telah memiliki kapasitas bahasa akan tetepi seperti dalam bidang yang lain, factor lingkungan akan mengambil peranan yang cukup menonjol, dalam mempengaruhi perkembangan bahasa anak tesebut. Mereka belajar makna kata dan bahasa sesuai dengan apa yang mereka dengar, lihat dan mereka hayati dalam kehidupan sehari-hari. Perkembangan bahasa anak terbentuk oleh lingkungan yang berbeda-beda. Bahasa berkembang dipengaruhi oleh factor lingkungan, karena kekayaan lingkungan akan merupakan pendukung bagi perkembangan peristilahan yang sebagian besar dicapai dengan proses meniru. Dengan demikian, remaja berasal dari lingkungan yang berbeda juga akan berbeda juga kemampuan dan perkembangan bahasanya.

6. Upaya Pengembangan Bahasa Remaja dan Implikasinya Dalam Menyelenggaraan Pendidikan
Kelas atau kelompok belajar terdiri dari sisa-sisa yang bervariasi bahasanya, baik kemampuannya maupun polanya. Menghadapi hal ini guru harus mengembangkan strategi belajar mengajar bidang bahasa dengan memfokuskan pada potensi dan kemampuan.
Pertama, anak perlu melakukan pengulangan pelajaran yang telah diterima dengan kata dan bahasa yang disusun oleh murid-murid sendiri. Dengan cara ini senantiasa guru dapat melakukan identifikasiu tentang pola dan tingkat kemampuan bahasa.
Kedua, berdasar hasil identifikasi itu guru melakukan perkembangan bahasa murid dengan menambahkan pembendaharaan bahasa lingkungan yang telah dipilih secara tepat dan benar oleh guru. Cerita guru tentang isi pelajaran yang telah diperkaya itu diperluas untuk langkah-langkah selanjutnya, sehingga para murid mampu menyusun cerita lebih kompleks tentang isi bacaan yang telah dipelajari dengan menggunakan pola bahasa mereka sendiri.























BAB III
PENUTUPAN
KESIMPULAN
Intelek adalah kecakapan mental, yang menggambarkan kemampuan berpikir. Inteligensi dapat diartikan sebagai kemampuan seseorang dalam berpikir dan bertindak. Kemampuan berpikir atau inteligensi dapat diukur dengan tes inteligensi. Bakat adalah kemampuan bawaan yang merupakan potensi yang masih perlu dikembangkan atau dilatih. Perkembangan social adalah berkembangan tingkat hubungan antarmanusia sehubungan dengan meningkatnya kebutuhan hidup manusia.
Hubungan sosial remaja terutama yang berkaitan dengan proses penyesuaian diri berpengaruh terhadap tingkah laku, sehingga dikenal beberapa pola tingkah laku, seperti remaja keras, remaja yang mengisolasi diri, remaja yang bersifat egois. Bahasa memegang peranan penting dalam kehidupan bermasyarakat. Perkembangan bahasa dipengaruhi oleh dalam factor, diantara lain adalah usia anak, kondisi keluarga, kecerdasan, status social keluarga dan kondisi fisik anak terutama dari kesehatannya.

SARAN
Di dalam masyarakat masih ada anak-anak dan para remaja yang kurang berpikir, maka orang tua dan para guru harus membimbing anak-anak supaya berpikir intelek dan dapat di ukur dengan cara tes inteligensi. Supaya para remaja di Indonesia bisa berpikir lebih tinggi dan cepat dalam bertindak, terutama dakam menghadapi masalah.







DAFTAR PUSTAKA

Sunarto, Dr. H dan Dra. Ny. B. Agung Hartono, 1995. Perkembangan Peserta Didik. Rineka Cipta: Jakarta.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar